Peluncuran Raya Budaya Etam, Jadi Ruang Kolaborasi Pelaku Seni di Kaltim
Daerah

Peluncuran Raya Budaya Etam, Jadi Ruang Kolaborasi Pelaku Seni di Kaltim

Grace 25 June 2026 92 tayangan
Ringkasan Berita

Gerakan kaki yang rancak berpadu dengan ayunan tangan yang anggun dari lima penari Tari Jepen membuka malam peluncuran Raya Budaya Etam di Temindung Creative Park, Samarinda, Rabu (24/6/2026). Diiringi tepuk tangan para tamu, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi meluncurkan program yang disiapkan sebagai wadah fasilitasi berbagai kegiatan komunitas dan pegiat budaya di Kalimantan Timur.Peluncuran Raya Budaya Etam menjadi bagian dari rangkaian Ekspresi Seni Budaya Kalimantan Timur 2026 yang digagas Komisi X DPR RI bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI.

Iklan

SAMARINDA โ€“ Gerakan kaki yang rancak berpadu dengan ayunan tangan yang anggun dari lima penari Tari Jepen membuka malam peluncuran Raya Budaya Etam di Temindung Creative Park, Samarinda, Rabu (24/6/2026). Diiringi tepuk tangan para tamu, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi meluncurkan program yang disiapkan sebagai wadah fasilitasi berbagai kegiatan komunitas dan pegiat budaya di Kalimantan Timur.


Peluncuran Raya Budaya Etam menjadi bagian dari rangkaian Ekspresi Seni Budaya Kalimantan Timur 2026 yang digagas Komisi X DPR RI bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI. Program tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi seniman, budayawan, komunitas, akademisi, tokoh adat, pemerintah, hingga masyarakat untuk memperkuat pelestarian sekaligus pengembangan kebudayaan di Bumi Etam.


Dalam sambutannya, Hetifah mengatakan kebudayaan membutuhkan dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak agar tetap berkembang di tengah tantangan yang dihadapi saat ini, termasuk keterbatasan anggaran dan perubahan situasi global.


โ€œDi tengah berbagai situasi, baik di Kaltim sendiri maupun situasi global, termasuk efisiensi yang mungkin membuat dukungan pendanaan dan fasilitasi untuk kebudayaan terasa tidak menjadi prioritas, maka kita harus menyatukan langkah dan menyatukan hati. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan bersama, tentu dengan lebih fokus, memilih prioritas, dan mengerjakannya secara kolaboratif,โ€ katanya.


Menurut Hetifah, kehadiran Raya Budaya Etam dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat jejaring antarkomunitas budaya sekaligus membuka ruang bagi lahirnya berbagai kegiatan seni dan kebudayaan yang mendapat pendampingan maupun fasilitasi.


Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, Balai Pelestarian Kebudayaan, hingga para pegiat budaya menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya Kalimantan Timur.


Dalam kesempatan tersebut, Hetifah mengujarkan persoalan masyarakat adat di Kedang Ipil yang dinilainya menjadi contoh tantangan dalam mempertahankan identitas budaya. Menurutnya, perlindungan terhadap budaya tidak akan berjalan maksimal apabila tidak didukung sinergi seluruh pemangku kepentingan.


โ€œKasus yang dihadapi sahabat-sahabat kita di Kedang Ipil bisa menjadi contoh bagaimana sulitnya mempertahankan pemajuan kebudayaan jika tidak ada kolaborasi. Karena itu, saya senang melihat pemerintah daerah, Kementerian Kebudayaan, akademisi, legislatif, komunitas, dan pegiat budaya bisa duduk bersama untuk mencari jalan keluarnya,โ€ ujarnya.


Selain peluncuran program, kegiatan juga diisi dengan forum dialog dan penyerapan aspirasi para pelaku seni budaya Kalimantan Timur. Berbagai usulan disampaikan, mulai dari perlindungan masyarakat adat, penguatan ruang berekspresi bagi seniman, dokumentasi warisan budaya, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis seni dan tradisi lokal.


Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya sastrawan dan budayawan Syafruddin Pernyata, Herlina dari Rumah Budaya dan Sanggar Seni PKKB, Ketua Komunitas Samarinda Sapeq Players Asfian Nur Gusprada, serta Ketua Umum Dewan Kesenian Kaltim Syafril Teha Noer.


Hetifah berharap Temindung Creative Park dapat terus berkembang menjadi pusat kreativitas yang melahirkan ide-ide baru dan mempertemukan berbagai komunitas budaya untuk berkolaborasi melalui program Raya Budaya Etam.


โ€œKita ingin event-event seperti ini bukan hanya menjadi ruang tampil, tetapi juga ruang berpikir bersama. Apakah itu memperbaiki pelayanan museum, mendokumentasikan budaya, atau mendorong ekonomi kreatif berbasis kebudayaan, semuanya harus kita pikirkan bersama,โ€ pungkasnya.


Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan puisi dan penampilan musik sape oleh Alif Fakod yang menghadirkan nuansa etnik khas Kalimantan. Penampilan tersebut sekaligus menutup malam peluncuran Raya Budaya Etam yang diharapkan menjadi langkah awal memperkuat ekosistem seni dan budaya di Kalimantan Timur.


Penulis: GB