Kritik Bansos Banjir Pemkot Semarang di Tugu dan Ngaliyan: Solusi atau Sekadar Seremoni?
SEMARANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyalurkan bantuan sosial kepada warga terdampak banjir di wilayah Kecamatan Tugu dan Ngaliyan pekan ini sebagai respons atas bencana hidrometeorologi yang kembali merendam permukiman penduduk.Penyaluran bantuan ini diklaim sebagai bentuk penanganan menyeluruh yang mencakup aspek kondisi lapangan hingga perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat.Namun, langkah reaktif ini justru mengundang kritik tajam dari berbagai pihak yang menilai pemerintah daerah lebih fokus pada bantuan pascabencana daripada perbaikan infrastruktur permanen.Meskipun Pemkot Semarang menegaskan komitmennya dalam menangani banjir secara holistik, distribusi sembako dianggap tidak akan menyelesaikan akar permasalahan drainase yang buruk di kawasan tersebut.Warga di Tugu dan Ngaliyan terus terjebak dalam siklus banjir tahunan yang merugikan secara ekonomi dan psikis.Publik mendesak agar anggaran tidak hanya dihabiskan untuk skema bantuan sosial, melainkan untuk percepatan normalisasi sungai dan pembenahan tata ruang yang lebih progresif.Efektivitas penanganan menyeluruh yang dijanjikan pemerintah kini ditantang untuk dibuktikan dengan penurunan frekuensi banjir secara nyata di masa mendatang.Tanpa adanya aksi nyata pada sistem kendali air, bantuan sosial ini dikhawatirkan hanya menjadi 'obat penenang' sementara bagi masyarakat yang terus dihantui rasa cemas setiap kali hujan deras mengguyur Kota Semarang.
SEMARANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyalurkan bantuan sosial kepada warga terdampak banjir di wilayah Kecamatan Tugu dan Ngaliyan pekan ini sebagai respons atas bencana hidrometeorologi yang kembali merendam permukiman penduduk.
Penyaluran bantuan ini diklaim sebagai bentuk penanganan menyeluruh yang mencakup aspek kondisi lapangan hingga perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Namun, langkah reaktif ini justru mengundang kritik tajam dari berbagai pihak yang menilai pemerintah daerah lebih fokus pada bantuan pascabencana daripada perbaikan infrastruktur permanen.
Meskipun Pemkot Semarang menegaskan komitmennya dalam menangani banjir secara holistik, distribusi sembako dianggap tidak akan menyelesaikan akar permasalahan drainase yang buruk di kawasan tersebut.
Warga di Tugu dan Ngaliyan terus terjebak dalam siklus banjir tahunan yang merugikan secara ekonomi dan psikis.
Publik mendesak agar anggaran tidak hanya dihabiskan untuk skema bantuan sosial, melainkan untuk percepatan normalisasi sungai dan pembenahan tata ruang yang lebih progresif.
Efektivitas penanganan menyeluruh yang dijanjikan pemerintah kini ditantang untuk dibuktikan dengan penurunan frekuensi banjir secara nyata di masa mendatang.
Tanpa adanya aksi nyata pada sistem kendali air, bantuan sosial ini dikhawatirkan hanya menjadi 'obat penenang' sementara bagi masyarakat yang terus dihantui rasa cemas setiap kali hujan deras mengguyur Kota Semarang.